Misteri di Balik Tradisi Bali: Kenapa Desa Adat Renon 'Haram' Bikin Ogoh-ogoh Jelang Nyepi?
Siapa sih yang nggak nungguin momen Pengerupukan di Bali?
Buat kalian yang tinggal atau pernah liburan ke Bali saat musim Nyepi, pasti tahu banget betapa ramai-nya jalanan di malam sebelum Nyepi. Suara gamelan baleganjur di mana-mana, pemuda-pemudi semangat mengarak Ogoh-ogoh raksasa, dan jalanan macet total oleh lautan manusia.
Tapi, pernah nggak kalian melintas di kawasan Renon, Denpasar, saat malam Pengerupukan? Kalau kalian perhatikan, ada yang beda. Di saat desa lain berlomba-lomba bikin monster menyeramkan nan artistik, Desa Adat Renon justru "adem ayem" tanpa parade Ogoh-ogoh.
Lho, kok bisa? Padahal Renon itu pusat kota, lho.
Nah, sebagai penikmat budaya yang sudah lama mengamati uniknya tradisi di Pulau Dewata, kali ini saya mau ajak kalian bedah alasan kenapa Renon "mengharamkan" pembuatan Ogoh-ogoh. Simak sampai habis, ya!
Hype Parade Ogoh-ogoh: Bukan Sekadar Patung Seram
Sebelum kita masuk ke misteri Renon, kita samakan frekuensi dulu soal apa itu Ogoh-ogoh.
Bagi umat Hindu di Bali, Ogoh-ogoh itu bukan sekadar karya seni styrofoam atau bambu. Patung-patung berwujud menyeramkan ini adalah simbol dari Bhuta Kala atau sifat-sifat negatif yang ada di alam semesta dan diri manusia.
Tradisi mengarak Ogoh-ogoh dilakukan saat Tawur Agung Kesanga (sehari sebelum Nyepi). Tujuannya jelas:
- Somya: Menetralisir kekuatan negatif agar tidak mengganggu kehidupan manusia.
- Ekspresi Kreativitas: Wadah seni bagi Sekaa Teruna (pemuda banjar).
- Kekompakan: Menyatukan warga dalam satu aktivitas gotong royong.
Biasanya, setelah diarak keliling desa dan diputar di perempatan jalan (untuk membingungkan roh jahat), Ogoh-ogoh ini akan dibakar (prelina) sebagai simbol musnahnya sifat buruk.
Anomali di Jantung Denpasar: Larangan di Desa Adat Renon
Di tengah kemeriahan perayaan malam Pengerupukan di Bali yang identik dengan pawai ogoh-ogoh, Desa Adat Renon di Denpasar justru tampil berbeda. Di wilayah ini, Anda tidak akan menemukan patung raksasa berwujud menyeramkan yang diarak keliling desa. Bukan karena kurangnya kreativitas pemuda setempat, melainkan karena sebuah pantangan sakral yang telah dijaga puluhan tahun demi keselamatan warga desa.
Awal Mula Larangan: Peristiwa Tahun 1980-an
Kisah ini bermula sekitar tahun 1985-1986, saat tradisi ogoh-ogoh mulai populer di Bali. Seperti desa lainnya, warga dan pemuda di Renon sangat antusias membuat berbagai bentuk ogoh-ogoh, mulai dari wujud raksasa hingga hansip. Namun, kegembiraan tersebut berubah menjadi ketegangan saat malam Pengerupukan tiba.
Berbagai kejadian di luar nalar terjadi. Warga melaporkan melihat ogoh-ogoh bergerak sendiri dan mendengar suara tangisan misterius. Puncak ketegangan terjadi saat prosesi di Pura Bale Agung. Ida Sesuhunan di Pura Dalem dan Baris China tidak berkenan untuk mesineb (kembali ke peristirahatannya). Suasana menjadi kacau dengan banyaknya warga yang mengalami kerauhan (kesurupan). Melalui petunjuk niskala ( pawisik ), diketahui bahwa pawai ogoh-ogoh harus dihentikan. Segera setelah keputusan pembatalan diambil, situasi kembali tenang dan Ida Sesuhunan berkenan mesineb .
Percobaan Kedua yang Menegangkan
Satu dekade berlalu, sekitar tahun 1995-1996, I Wayan Suarta (Bendesa Adat Renon) bersama para pemuda mencoba untuk kembali membuat ogoh-ogoh. Niatnya bukan menentang, melainkan berharap izin niskala sudah turun agar desa mereka bisa turut serta dalam kemeriahan seperti desa lainnya.
Namun, aura mistis sudah terasa sejak proses pembuatan. Para pemuda merasa seperti dihipnotis untuk bekerja hanya di atas jam 10 malam. Sering muncul penampakan ular hitam-putih ( poleng ) di lokasi pembuatan. Keanehan fisik pun terjadi; ogoh-ogoh yang ukurannya sudah diukur agar muat melewati gang rumah, tiba-tiba membesar secara misterius saat hendak dikeluarkan, hingga terpaksa harus diangkut memutar melewati persawahan menuju kuburan desa.
Meskipun Suarta sempat melakukan matur piuning (memohon izin) ke berbagai pura dan merasa mendapat "lampu hijau" melalui pengalaman spiritual saat kerauhan, kenyataan berkata lain.
Peringatan Keras Niskala
Pada malam Pengerupukan tahun itu, kejadian tahun 1986 terulang kembali. Saat prosesi upacara di Pura Desa, Ida Sesuhunan kembali menolak mesineb dan kerauhan massal tak terhindarkan. Pesan niskala yang turun sangat tegas: ogoh-ogoh tidak diizinkan dan harus segera dimusnahkan.
Suarta sendiri mengalami kerauhan hebat setibanya di rumah. Ia menari-nari layaknya Rangda dan berteriak meminta agar bunga di kepala ogoh-ogoh dilepas dan patung itu segera dibakar. Momen itu begitu genting dan emosional, hingga membawa trauma tersendiri bagi keluarganya. Setelah ogoh-ogoh dibakar, barulah suasana desa kembali kondusif.
Wilayah yang "Tenget"
Sejak peristiwa tersebut, tidak ada lagi warga yang berani membuat ogoh-ogoh di Desa Adat Renon. Wilayah ini diyakini memiliki aura niskala yang sangat kuat atau tenget .
Keunikan energi spiritual di Renon tidak hanya berpengaruh pada ogoh-ogoh. Pementasan seni lain seperti Drama Gong atau Calonarang konon juga terkena dampaknya. Lawakan yang biasanya lucu di tempat lain bisa menjadi hambar saat dipentaskan di Renon, dan pementasan Calonarang pernah dibatalkan karena dianggap membawa dampak buruk bagi keselamatan warga.
Kini, ketiadaan ogoh-ogoh di Renon bukan lagi dilihat sebagai kekurangan, melainkan bentuk penghormatan tertinggi warga terhadap tradisi dan kehendak Sesuhunan yang melindungi desa mereka.
Hubungan Ogoh-ogoh dan Esensi Nyepi bagi Umat Hindu
Mungkin ada yang bertanya, "Kalau nggak ada Ogoh-ogoh, Nyepi-nya sah nggak?"
Jawabannya: Sangat sah.
Teman-teman perlu ingat, Ogoh-ogoh itu sebenarnya adalah "tradisi tambahan" yang baru populer secara masif di era 80-an. Inti dari perayaan menyambut Tahun Baru Saka adalah Tawur Kesanga (upacara kurbannya/pembersihannya), bukan patungnya.
Hubungan Ogoh-ogoh dengan Nyepi di Bali itu ibarat pesta kembang api di tahun baru masehi. Meriah kalau ada, tapi kalau nggak ada pun, tahun tetap berganti, kan?
Bagi umat Hindu , yang paling penting adalah pelaksanaan Catur Brata Penyepian keesokan harinya:
- Amati Geni (Tidak menyalakan api/emosi)
- Amati Karya (Tidak bekerja)
- Amati Lelungan (Tidak bepergian)
- Amati Lelanguan (Tidak bersenang-senang)
Desa Adat Renon mengajarkan kita bahwa untuk menyambut kesucian Nyepi, kita tidak harus selalu "berisik". Kadang, kesederhanaan tradisi justru membawa kita lebih dekat pada makna Mulatsarira (introspeksi diri).
Kesimpulan: Beda Desa, Beda Cerita
Bali itu unik karena konsep Desa, Kala, Patra (Tempat, Waktu, Keadaan). Apa yang lazim di satu desa, bisa jadi pantangan di desa lain.
Ketidakhadiran Ogoh-ogoh di Renon adalah bukti kekayaan budaya Bali . Itu mengingatkan kita untuk tidak memukul rata semua tradisi. Justru, perbedaan inilah yang membuat Bali tetap magis dan penuh misteri.
Jadi, kalau besok-besok kalian lewat Renon pas malam Pengerupukan dan merasa sepi, jangan protes ya! Itu tandanya warga sedang menjaga tradisi leluhur mereka dengan cara yang berbeda.
